السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Para pemuda harapan bangsa, para pemudi harapan pertiwi yang ana banggakan
Antum yang berada disini apakah antum tau apa itu al-Qur’an yang antum baca setiap hari di dalam sholat atau diluar sholat? Al-Qur’an adalah lampu penerang hati dalam menembus gelapnya lika-liku hidup dan penghidupan, al-Qur’an adalah benteng pertahanan nan kokoh dari pesona godaan syetan yang menyesatkan, bahkan al-Qur’an adalah kitab suci, yang sarat dengan inspirasi dan motivasi agar umat manusia memperluas wawasan, memperdalam ilmu pengetahuan, menyempurnakan akhlak pergaulan, bahkan menciptakan generasi-generasi rabbani nan qur’ani yang handal dan berakhlakul karimah.
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah al-Kahfi ayat 13 :
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Yang artinya n’syaallah :
“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; ayat 13”
Kemudian Allah SWT menjelaskan cerita itu bahwa sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang masih remaja yang beriman kepada Tuhan mereka Yang Maha Kuasa dengan penuh keyakinan. Meskipun masyarakat mereka menganut agama syirik, tetapi mereka dapat mempertahankan keimanan mereka dari pengaruh kemusyrikan itu. Memang para pemuda pada umumnya mempunyai sifat mudah menerima kebenaran, mereka lebih cepat menerima petunjuk ke jalan yang benar dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah tenggelam dalam ajaran-ajaran yang sesat.
Seorang ahli hikmah berkata : “Pokok inti kepemudaan itu adalah keimanan. Dalam masa muda itu, seseorang mulai menerima dan menemukan keimanan dan meneguhkan ke dalam pribadinya."
Hadirin, insan muda yang berbahagia
Selama kita masih ada iman selama kita masih ada akhlak kita tidak akan terjerumus masa muda kita kepada masa yang buruk, masa yang kacau, masa yang tidak ada gunanya untuk bangsa ini. Contohnya saja jaman sekarang banyak anak muda yang tidak memperdulikan dirinya dimana mereka berpoya-poya dimana mereka berkelakuan buruk tidak tahu menahu di tempat umum mereka saling bermesraan dimana orang banyak lewat mereka tak memperdulikannya, Astagfirullah.
Kita saat ini sudah menempati bangku kuliah dimana kita di didik lebih maju untuk apa? ya untuk diri kita, untuk orang sekitar dan untuk bangsa ini. Dimana bangsa ini butuh antum semua untuk memajukan yang lebih maju. Seharusnya kita malu terhadap pemuda-pemudi dahulu dimana mereka rela berkorban seluruh raga untuk bangsa, masa kita disini hanya berkorban dengan otak tidak bisa, dimana jiwa muda kita, jangan letoy lah.
Di dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh AL. Hakim :
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ
: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Yang insyallah artinya :”Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : 1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, 2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, 3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, 4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, 5. Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya).
Nah jadi kita manfaatkan masa muda kita ini sebaik-sebaiknya kalau kita sudah tua apa yang kita berikan kepada anak cucu kita. Jika kita pintar mengontrol diri kita saat ini kita tidak akan rugi sekarang atau kelak nanti. Kita contoh nabi kita nabi Muhammad SAW beliau itu seorang yang terlahir di mana masa muda beliau di tinggalkan kedua orang tua beliau, beliau hidup dengan paman beliau yang bernama abu thalib adik kandung dari ayahanda Abdullah. Akan tetapi Abu Thalib memperlakukan nabi kita Muhammad SAW dengan penuh kasih sayang melebihi putranya sendiri. Rasa sayang yang di tunjukkan Abu Thalib bukan sikap sayang yang memanjakan tetapi yang bersifat mendidik. Bersama pamannya, Nabi Muhammad hidup dengan sederhana karena Abu Thalib adalah orang yang sederhana secara materi dan gaya hidup. Berkat kesederhanaan itu membuat nabi menjadi sosok yang mudah berempati pada kaum lemah, miskin, dan terpinggirkan.
Para insan muda yang di Rahmati Allah
Waktu seusia muda nabi muhammad menghindari semua perilaku buruk yang menjadi tradisi dikalangan pemuda seusia nabi, pada masa itu seperti bejudi, berzina, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain. Sehingga beliau dikenali sebagai As Sadiq (yang benar) dan Al Amin (yang dapat di percaya).
Dengan dakwah yang di atas tadi dapat kita simpulkan bahwa masa muda kita dapat diisi dengan berbagai kegiatan positif seperti pendidikan formal dan non-formal, aktivitas organisasi, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Intinya, jangan sampai dalam usia produktif ini menjadi pengangguran tanpa aktivitas yang berarti.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ